Minggu, 06 Maret 2016

LAPORAN AKUSTIK KELAUTAN

I. PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
          Akustik kelautan ialah suatu bidang kelautan untuk mengetahui/mendeteksi target di kolom perairan dan dasar peairan menggunakan gelombang suara. Pengaplikasian akustik kelautan akan mempermudah peneliti untuk mengetahui objek yang ada di kolom perairan dan dasar perairan baik berupa plankton, ikan, kandungan substrat dan adanya kapal kandas.
Akustik kelautan menurut Kinsler,et.al.(1982), merupakan bagian instrumentasi kelautan yang digunakan untuk mendeteksi benda biota laut maupun lapisan sedimen yang berada di dasar lautan yang secara umum terbagi dalam sistem sonar dan echosounder.
Echosounder  yaitu suatu alat elektronik yang menggunakan sistem gema yang berfungsi untuk mengukur kedalaman  perairan dan untuk mendeteksi adannya gerombolan ikan sehingga membantu dalam usaha penangkapan ikan (Benyami, 1985).
Echosounder merupakan salah satu teknik pendeteksian bawah air. Dalam aplikasinya, echosounder menggunakan instrumen yang dapat menghasilkan beam (pancaran gelombang suara) yang disebut dengan transducer. Echosounder adalah alat untuk mengukur kedalaman air dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echosounder kembali ke dasar air (Parkinson, 1996).
          Dibandingkan dengan metodelain, khususnya dalam eksplorasi sumberdaya hayati laut atau pendugaan stok ikan Metode akustik memiliki beberapa Keunggulan komparatif, yakni :
-     Proses berkecepatan tinggi.
-     Estimasi stok ikan secara langsung (direct estimation) tanpa analisis parameter lingkungan.
-     Memungkinkan memperoleh dan memproses data secara real time.
-     Akurasi dan ketepatan tinggi (accuracy and precision).
-     Tidak berbahaya atau merusak (tidak menyentuh objek).
-     Bisa digunakan jika metode lain tidak bisa / tidak mungkin dilakukan.
1.2.       Tujuan
          Adapum tujuan dari laporan akustik kelautan ini adalah sebagai berikut:
1.    Mengetahui cara penggunaan alat akustik kelautan GPS Map Sounder.
2.    Mengetahui cara pengambilan data batimetri dan membuat peta batimetri.

1.3.      Ruang Lingkup
1.3.1.   Ruang Lingkup Wilayah
Ruang lingkup wilayah praktek lapang mata kuliah Akustik Kelautanyaitu di perairan Desa Sungai Dua Laut, Kecamatan Sungai Loban, Kabupaten Tanah Bumbu,Provinsi Kalimantan Selatan.Secara geografis Desa Sungai Dua Laut terletak pada posisi 3°40’31,51” - 3°42’13.57” Lintang Selatan dan 115°14’24” - 116°05’56” Bujut Timur dengan batas-batas administrasi sebagai berikut:
·      Sebelah Utara Desa Persiapan Damar Indah dan Sumber Makmur
·      Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Jawa
·      Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sumber Sari dan Desa Swi Marga Utama
·      Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sungai Loban
              Dari pusat Pemerintahan Kecamatan berjarak ± 9 km, dengan waktu tempuh selama ± 15 menit, ± 50 km dari pusat Pemerintahan Kabupaten Tanah Bumbu dengan waktu tempuh selama ± 85 menit dan ± 229 km dari Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan yang ditempuh dengan waktu 4,5 jam melalui jalur transfortasi darat. Desa Sungai Dua Laut memiliki luas 2.075 Ha yang terdiri atas 2 RW yaitu RW. I terdiri RT. 01 dan 02. RW. II terdiri dari RT. 03 dan RT. 04. Jumlah penduduk di Desa Sungai Dua Laut menurut dari data profil desa terdapat 823 jiwa, yang terdiri dari 428 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 395 jiwa berjenis kelamin perempuan.

1.3.2.   Ruang Lingkup Materi
Adapun parameter yang diukur dan dianalisis dari laporan Akustik kelautan sebagai berikut:
1.      Mengenal dan pemakaian alat.
2.      Mengukur kedalaman perairan.
3.      Mengukur suhu perairan.

 


II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Akustik Kelautan
Akustik kelautan merupakan teori yang membahas tentang gelombang suara dan perambatannya dalam suatu medium air laut. Akustik kelautan merupakan satu bidang kelautan yang mendeteksi  target di kolom perairan dan dasar perairan dengan menggunakan suara sebagai mediannya. Permasalahan-permasalahan yang dibahas dalam akustik kelautan ini yaitu, kecepatan gelombang suara, waktu (pada saat gelombang dipancarkan hingga gelombang dipantulkan kembali), dan kedalaman perairan. Hal-hal yang mendasari kita mempelajari akustik kelautan adalah laut yang begitu luas dan dalam (dinamis), manusia sudah pernah ke planet terjauh tetapi belum pernah ke laut terdalam, sehingga dibutuhkannya alat dan metode untuk melakukan pendeskripsian kolom dan dasar laut, dan saat ini metode yang paling baik adalah dengan menggunakan akustik (FAO, 2001).
Metode akustik merupakan proses-proses pendeteksian target di laut dengan mempertimbangkan proses-proses perambatan suara, karakteristik suara, faktor lingkungan, dan kondisi target. Kelebihan dari metode akustik ini, yaitu berkecepatan tinggi, estimasi stok ikan secara langsung, dan memproses data secara real time, tepat, dan akurat. (Manik, 2006). Arnaya (1990) menyatakan bahwa metode akustik memiliki beberapa kelebihan, yaitu: berkecapatan tinggi, estimasi stok ikan secara langsung, memungkinkan memperoleh dan memproses data secara real time, akurasi ketepatan tinggi, tidak merusak karena frekuensi yang digunakan tidak membehayakan si pemakai alat ataupun target.
2.2.  Pengertian Echosounder
Echosounder adalah  sebuah perangkat yang menggunakan teknologi SONAR untuk pengukuran bawah air fisik dan biologis komponen-perangkat ini juga dikenalsebagai SONAR ilmiah. Aplikasi termasuk batimetri, klasifikasi substrat, studi vegetasi air,ikan, dan plankton, dan diferensiasi massa air .Echosounder merupakan salah satu teknik pendeteksian bawah air. Dalamaplikasinya, Echosounder menggunakan instrument yang dapat menghasilkan beam(pancaran gelombang suara) yang disebut dengan transduser. Echosounder adalah alatuntuk mengukur kedalaman air dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaanke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dari dasar air (Parkinson, B.W.,1996)
. Echosounder Adalah : Suatu alat navigasi elektronik dengan menggunakan system gema yang dipasang pada dasar kapal yang berfungsi untuk mengukur kedalaman perairan, mengetahui bentuk dasar suatu perairan dan untuk mendeteksi gerombolan ikan dibagian bawah kapal secara vertical. (Ben-Yami, 1985).
Menurut Lurton (2002), multibeam echosounder pada mulanya terdiri dari perpanjangan single-beam echosounder. Bukan transmisi dan menerima sinar vertikal tunggal, multibeam sounder mengirimkan dan menerima seberkas beam dengan lebar individu kecil (1-3º), di sumbu kapal. Yang terpenting, tentu saja, adalah kemungkinan mengalikan jumlah pengukuran simultan kedalaman (biasanya 100-200), menyapu koridor di sekitar jalan kapal (lebar total 150 mencakup hingga 7.5 kali kedalaman air). Kebanyakan Multibeam Sounder menggunakan besar lebar sudut mereka untuk merekam gambar akustik menggunakan prinsip yang sama sebagai side scan sonar. Tetapi kinerja yang dihasilkan lebih buruk daripada dalam sistem (towfish), karena gerakan platform dukungan dan karena insiden sudut tidak cukup merumput. Dengan sistem tersebut, ahli geologi telah mengintegrasi pembuangan alat-alat yang memberikan, pada saat yang sama, bathymetry dan reflektivitas pengukuran. Pengumpulan simultan seismik dan sedimen profiler data dapat membantu dalam menyediakan penyelidikan yang sangat lengkap dan menyeluruh mengenai struktur sedimen.

2.3. Pengukuran Kedalaman Laut
Dasar laut memiliki karakteristik memantulkan dan menghamburkan kembali gelombang suara seperti halnya permukaan perairan laut. Parameter seperti ukuran butiran sedimen, relief dasar perairan, serta sejumlah variasi lainnya pada dasar perairan mempengaruhi proses hamburan sinyal akustik (Jayantir, 2009).
Pengukuran kedalaman perairan secara konvensional dilakukan dengan menggunakan metode batu duga, namun metode ini memiliki kelemahan terutama hasil yang kurang akurat. Kemajuan teknologi yang semakin pesat membuat metode ini sudah muali ditinggalkan dan beralih ke metode pengukuran kedalaman yang mnenggunaka prinsip perambatan gelombang bunyi (Fauzi,2009).
Alat yang biasa digunakan adalah Echosounder dimana alat ini merekam waktu  bolak balik yang ditempuh oleh pulsa suara dari permukaan hingga dasar perairan. Dengan mengetahui cepat rambat gelombang bunyi di dalam air (V) dan waktu tempuh untuk menangkap kembali gelombang bunyi yang dilepaskan (t), maka diperoleh kedalaman perairan (s) (Fauzi,2009).

2.4. Pengukuran Suhu Laut
Pengukuran suhu merupakan salah satu paramter laut yang sering diukur, karena kegunaannya dalam proses – proses fisika, kimia, dan biologi di perairan laut. Suhu laut berubah – ubah berdasarkan ruang dan waktu. Suhu merupakan faktor fisika yang penting dimana-mana di dunia. Kenaikan suhu mempercepat reaksi-reaksi kimiawi menurut hukum van't Hoff kenaikan suhu 10°C melipat duakan kecepatan reaksi, walaupun hukum ini tidak selalu berlaku (Anonim, 2001).
Suhu air laut dapat mengidentifikasi massa air laut. Suhu air laut sangat berhubungan erat dengan salinitas, dimana suhu dan salinitas dapat menentukan densitas air laut disamping tekanan. Air laut ditinjau dari sifat-sifat fisis atau kimiawinya, secara umum adalah berlapis. Distribusi sifat-sifat maupun kimiawi air laut umumnya zonal dalam arti tidak banyak perubahan dalam sifat-sifat air. Suhu permukaan laut berkisar antara – 2oC sampai 28oC (Nyabbaken, 2000).
Suhu merupakan faktor fisika yang penting dimana-mana di dunia. Kenaikan suhu mempercepat reaksi-reaksi kimiawi; menurut hukum van't Hoff kenaikan suhu 10°C melipat duakan kecepatan reaksi, walaupun hukum ini tidak selalu berlaku. Misalnya saja proses metabolisme akan menaik sampai puncaknya dengan kenaikan suhu tetapi kemudian menurun lagi. Setiap perubahan suhu cenderung untuk mempengaruhi banyak proses kimiawi yang terjadi secara bersamaan pada jaringan tanaman dan binatang, karenanya juga mempengaruhi biota secara keseluruhan (Foster, 2000).




 


II.       METODOLOGI PRAKTEK

3.1  Waktu dan Lokasi
Peraktik lapang ini dilaksanakan  pada tanggal 1 - 4 Desember 2015 di Desa Sungai Dua Laut  kecamatan Sungai Loban, Kabupaten Tanah Bumbu, provinsi Kalimantan Selatan.
Gambar 1. Peta Lokasi Praktik Lapang Di Desa Sungai Dua Laut.

3.2  Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum akustik kelautan mengenai GPS adalah:
a.    GPS Map Souder : untuk mengetahui hasil pengamatan berupa koordinat lokasi, suhu, kedalaman perairan.
b.    Aki : sebagai sumber energi listrik
c.    Kabel : untuk menyalurkan energi listrik dari aki ke peralatan
d.    Antena : untuk menerima signal satelit
e.    Transmitter : mentransmisikan atau memperkuat sinyal pulsa
f.     Transducer : memancarkan dan menerima pulsa suara dan mengubah energi listrik menjadi suara dan sebaliknya
g.    Receiver : menguatkan sinya echo dari transducer
h.    Display : menampilkan data pengamatan
i.      Kapal : sebagai alat transporstasi dan penenpatan alat

3.3         Metode Pengambilan Data
Metode  pengambilan data, dilakukan secara insitu dan observasi di lapangan yaitu di perairan Desa Sungai Dua Laut, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan.

IVHASIL DAN PEMBAHASAN
 




4.1.  Analisa Hasil Praktikum
Dari praktikum Aksutik Kelautan mengenai echosounder, diperoleh data sebagai berikut:
Gambar 2. Peta sebaran kedalaman perairan Desa Sungai Dua Laut
Dari hasil pengamatan yang dilakukan di perairan Sungai Dua Laut didapatkan data sebagaimana ditampilkan pada gambar diatas dapat diketahui bahwa kedalaman perairan Desa Sungai Dua Laut berkisar antara 0hingga 5 meter. Perairan pada daerah pesisir pantai mempunyai kedalaman 0 hingga 0,5 meter, sedangkan perairan pada daerah tengah laut mempunyai kedalaman mencapai 4 hingga 5 meter.
Dapat diambil kesimpulan, bahwa jenis karakteristik kedalaman perairan di Desa Sungai Dua Laut adalah landai, karena kedalaman perairannya tidak mencapai 200 meter, serta permukaan pesisir pantai cenderung datar. Hal ini diperkirakan karena proses sedimentasi yang terjadi di perairan tersebut, menyebabkan pendangkalan perairan di dekat pesisir yang merupakan dampak dari erosi di daerah tersebut.
Gambar 3. Peta sebaran suhu perairan Sungai Dua Laut
Berdasarkan hasil pengamatan selama 4 hari di perairan Desa Sungai Dua Laut didapatkan hasil untuk sebaran suhu perairan seperti yang ditampilkan pada gambar di atas, dan dapat diketahuisebaran suhu di perairan Desa Sungai Dua Laut berkisar antara 28-33,5°C. Untuk suhu permukaan air tertinggi yaitu 33,5°C berlokasi di dekat pesisir pantaiseperti yang ditunjukkan dari gambar di atas dengan warna ungu, sedangkan lokasi dengan suhu kisaran 28°C atau suhu terendah berlokasi di sebelah barat daya lokasi praktek yang ditunjukan dengan warna merah.
Suhu menurun secara teratur sesuai dengan kedalaman. Semakin dalam suhuakan semakin rendah atau dingin. Hal ini diakibatkan karena kurangnya intensitas matahari yang masuk kedalam perairan. Pada kedalaman melebihi 1000 meter suhu air relatif konstan dan berkisar antara 2°C – 4°C (Hutagalung, 1988)
Suhu mengalami perubahan secara perlahan-lahan dari daerah pantai menuju laut lepas. Umumnya suhu di pantai lebih tinggi dari daerah laut karena daratan lebih mudah menyerap panas matahari sedangkan laut tidak mudah mengubah suhu bila suhu lingkungan tidak berubah. Di daerah lepas pantai suhunya rendah dan stabil.
(
Hutabarat,1986).
Terjadinya perbedaan suhu seperti yang ditunjukan pada gambar diatas diperkirakan karena adanya faktor faktor yang memengaruhi suhu permukaan laut, yaitu intensitas cahaya matahari yang diterima, musim, cuaca, sirkulasi udara, dan penutupan awan (Hutabarat dan Evans, 1986).
             

 


V.PENUTUP


5.1.  Kesimpulan
Berdasarkan praktikum Akustik Kelautan mengenai echosounder, bisa diambil kesimpulan bahwa:
1.    Akustik Kelautan merupakan ilmu yang mempelajari gelombang suara dan perambatannya dalam medium air laut.
2.    Echosounder adalah alat yang bekerja dengan prinsip akustik yang memancarkan gelombang vertikal ke dalam air.Pada dasarnya echosounder berfungsi sebagai pemancar getaran suara dalam air untuk mengukur jarak ke dasar samuder dengan akurat, namun pada perkembangannya, pemanfaatan echosounder mencakup semua bidang.
3.    Berdasarkan data lapang yang didapat, diketahui bahwa kedalaman perairan Sungai Dua Lautyaitu antara 1 – 5 meter, dan dapat diambil kesimpulan bahwa jenis karakteristik perairannya adalah landai.
4.    Berdasarkan data lapang yang didapat,telah diketahui bahwa sebaran suhu perairan di Sungai Dua Laut yaitu antara 28 – 33,5oC

5.2.  Saran
Dalam praktikum Akustik Kelautan, laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu dibutuhkan kritik dan saran sebagai masukan untuk penulis guna memperbaiki segala kekurangan yang ada pada penulisan ini.Dalam praktek  berikutnya agar lebih terlaksana dengan baik sehingga data yang diperoleh lebih baik pula. Sehingga diperlukan kerjasama dalam menganalisis data dan kejelasan pembagian tugas antar praktikan.



DAFTAR PUSTAKA


Arnaya, I.N. 1991. Dasar-dasar Akustik. Diktat Kuliah Program Studi Ilmu danTeknologi Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Ben-Yami, M.1985.Community Fishery Centries: Guide lines for Establishment andoperation.FAO.Fishery Industries Division

Burczynski, JJ.1982.Introduction to the Use of Sonar System for estimating Fish Biomass. FAO. Fisheries Technical Paper No.191 Revision 1

FAO.Fisheries Technical Paper. Roma.Kloser, R. J., Bax, N. J., Ryan, T., Williams, A. dan Baker, B. A.(2001). Remote sensing of seabed types in the AustralianSouth East Fishery – Development and Application of Normalincident Acoustic Techniques and Associated Ground Truthing.

Fauzi,Nurul Ihsan. 2009. Pemetaan Batimetri. Jurnal Kelautan. Bandung

Foster,Bob.2000.Fisika Dasar. Erlangga, Jakarta.

Jayantir, R. W. N. 2009. Pengukuran Acoustic Backscattering Strength Dasar Perairan Selat Gaspar Dan Sekitarnya Menggunakan Instrumen Simrad Ek60. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Kinsler, Lawrence E., et al., 1982, Fundamentals of Acoustics, third ed, John Wiley & Sons. New York.

Lurton, X. 2002. An Introduction to Underwater Acoustic. Principles and Applications. Praxis Publishing Ltd. Chincester. UK

Manik, HM.2009.Quantying of Tuna Target Strenght Using Quantitative Echosounder. E-Journal.Departement of Marine Science and Technology.Institut Pertanian Bogor.Bogor.

Nybakken, J. W.. 2000. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologi. PT. Gramedia. Jakarta.

Parkinson, B.W. (1996), Echosounder : Theory and Applications, chap. 1:Introduction and Heritage of NAVSTAR, the Global Positioning System.pp. 3-28, American Institute of Aeronautics and Astronautics, Washington,D.C


 


PROFIL KEDALAMAN DAN SEBARAN SUHU
DI PERAIRAN DESA SUNGAI DUA LAUT KABUPATEN TANAH BUMBU





LAPORAN AKUSTIK KELAUTAN




 

































Oleh :
M MAHBUB NORKHALIS Z
G1F113002







KEMENTERIANRISET DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN
BANJARBARU


2015