I.
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Akustik kelautan ialah suatu bidang
kelautan untuk mengetahui/mendeteksi target di kolom perairan dan dasar peairan
menggunakan gelombang suara. Pengaplikasian akustik kelautan akan mempermudah peneliti
untuk mengetahui objek yang ada di kolom perairan dan dasar perairan baik
berupa plankton, ikan, kandungan substrat dan adanya kapal kandas.
Akustik
kelautan menurut Kinsler,et.al.(1982),
merupakan bagian instrumentasi kelautan yang digunakan untuk mendeteksi benda biota laut maupun
lapisan sedimen yang berada di dasar lautan yang secara umum terbagi dalam
sistem sonar dan echosounder.
Echosounder yaitu suatu alat elektronik yang menggunakan
sistem gema yang berfungsi untuk mengukur kedalaman perairan dan untuk mendeteksi adannya
gerombolan ikan sehingga
membantu dalam usaha penangkapan ikan
(Benyami, 1985).
Echosounder merupakan salah satu teknik pendeteksian
bawah air. Dalam aplikasinya, echosounder menggunakan instrumen yang dapat
menghasilkan beam (pancaran gelombang suara) yang disebut dengan transducer.
Echosounder adalah alat untuk mengukur kedalaman air dengan mengirimkan tekanan
gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echosounder
kembali ke dasar air (Parkinson, 1996).
Dibandingkan
dengan metodelain, khususnya dalam eksplorasi
sumberdaya hayati laut atau pendugaan stok ikan Metode akustik memiliki
beberapa Keunggulan komparatif, yakni :
-
Proses berkecepatan tinggi.
-
Estimasi stok ikan secara
langsung (direct estimation) tanpa analisis parameter lingkungan.
-
Memungkinkan memperoleh dan
memproses data secara real time.
-
Akurasi dan ketepatan tinggi (accuracy
and precision).
-
Tidak berbahaya atau merusak
(tidak menyentuh objek).
-
Bisa digunakan jika metode lain
tidak bisa / tidak mungkin dilakukan.
1.2.
Tujuan
Adapum
tujuan dari laporan akustik
kelautan ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui cara penggunaan alat
akustik kelautan GPS Map Sounder.
2. Mengetahui cara pengambilan data
batimetri dan membuat peta batimetri.
1.3.
Ruang
Lingkup
1.3.1.
Ruang
Lingkup Wilayah
Ruang lingkup wilayah praktek lapang mata kuliah Akustik
Kelautanyaitu di perairan Desa Sungai Dua Laut, Kecamatan Sungai Loban,
Kabupaten Tanah Bumbu,Provinsi
Kalimantan Selatan.Secara geografis Desa Sungai Dua Laut
terletak pada posisi 3°40’31,51” - 3°42’13.57” Lintang Selatan dan 115°14’24” -
116°05’56” Bujut Timur dengan batas-batas administrasi sebagai berikut:
·
Sebelah Utara Desa
Persiapan Damar Indah dan Sumber Makmur
·
Sebelah Selatan
berbatasan dengan Laut Jawa
·
Sebelah Barat berbatasan
dengan Desa Sumber Sari dan Desa Swi Marga Utama
·
Sebelah Timur berbatasan
dengan Desa Sungai Loban
Dari pusat Pemerintahan Kecamatan
berjarak ± 9 km, dengan waktu tempuh selama ± 15 menit, ± 50 km dari pusat
Pemerintahan Kabupaten Tanah Bumbu dengan waktu tempuh selama ± 85 menit dan ±
229 km dari Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan yang ditempuh dengan waktu 4,5
jam melalui jalur transfortasi darat. Desa Sungai Dua Laut memiliki luas 2.075
Ha yang terdiri atas 2 RW yaitu RW. I terdiri RT. 01 dan 02. RW. II terdiri
dari RT. 03 dan RT. 04. Jumlah penduduk di Desa Sungai Dua Laut menurut dari
data profil desa terdapat 823 jiwa, yang terdiri dari 428 jiwa berjenis kelamin
laki-laki dan 395 jiwa berjenis kelamin perempuan.
1.3.2.
Ruang
Lingkup Materi
Adapun
parameter yang diukur dan dianalisis dari laporan Akustik kelautan sebagai
berikut:
1. Mengenal
dan pemakaian alat.
2. Mengukur
kedalaman perairan.
3. Mengukur suhu perairan.
![]() |
II. TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Pengertian Akustik Kelautan
Akustik kelautan merupakan teori yang membahas tentang
gelombang suara dan perambatannya dalam suatu medium air laut. Akustik kelautan
merupakan satu bidang kelautan yang mendeteksi target di kolom perairan
dan dasar perairan dengan menggunakan suara sebagai mediannya. Permasalahan-permasalahan
yang dibahas dalam akustik kelautan ini yaitu, kecepatan gelombang suara, waktu
(pada saat gelombang dipancarkan hingga gelombang dipantulkan kembali), dan
kedalaman perairan. Hal-hal yang mendasari kita mempelajari akustik kelautan
adalah laut yang begitu luas dan dalam (dinamis), manusia sudah pernah ke
planet terjauh tetapi belum pernah ke laut terdalam, sehingga dibutuhkannya
alat dan metode untuk melakukan pendeskripsian kolom dan dasar laut, dan saat
ini metode yang paling baik adalah dengan menggunakan akustik (FAO, 2001).
Metode akustik
merupakan proses-proses pendeteksian target di laut dengan mempertimbangkan
proses-proses perambatan suara, karakteristik suara, faktor lingkungan, dan
kondisi target. Kelebihan dari metode akustik ini, yaitu berkecepatan tinggi,
estimasi stok ikan secara langsung, dan memproses data secara real time, tepat,
dan akurat.
(Manik, 2006). Arnaya (1990) menyatakan bahwa metode akustik memiliki
beberapa kelebihan, yaitu: berkecapatan tinggi, estimasi stok ikan secara
langsung, memungkinkan memperoleh dan memproses data secara real time,
akurasi ketepatan tinggi, tidak merusak karena frekuensi yang digunakan tidak
membehayakan si pemakai alat ataupun target.
2.2.
Pengertian Echosounder
Echosounder adalah sebuah perangkat yang
menggunakan teknologi SONAR untuk pengukuran bawah air fisik dan biologis
komponen-perangkat ini juga dikenalsebagai SONAR ilmiah. Aplikasi termasuk
batimetri, klasifikasi substrat, studi vegetasi air,ikan, dan plankton,
dan diferensiasi massa air .Echosounder merupakan salah satu teknik
pendeteksian bawah air. Dalamaplikasinya, Echosounder menggunakan instrument
yang dapat menghasilkan beam(pancaran gelombang suara) yang disebut dengan
transduser. Echosounder adalah alatuntuk mengukur kedalaman air dengan
mengirimkan tekanan gelombang dari permukaanke dasar air dan dicatat waktunya
sampai echo kembali dari dasar air (Parkinson, B.W.,1996)
. Echosounder
Adalah : Suatu alat navigasi elektronik dengan menggunakan system gema yang
dipasang pada dasar kapal yang berfungsi untuk mengukur kedalaman perairan,
mengetahui bentuk dasar suatu perairan dan untuk mendeteksi gerombolan ikan
dibagian bawah kapal secara vertical. (Ben-Yami,
1985).
Menurut Lurton (2002), multibeam
echosounder pada mulanya terdiri dari perpanjangan single-beam
echosounder. Bukan transmisi dan menerima sinar vertikal tunggal, multibeam
sounder mengirimkan dan menerima seberkas beam dengan lebar individu
kecil (1-3ยบ), di sumbu kapal. Yang terpenting, tentu saja, adalah kemungkinan
mengalikan jumlah pengukuran simultan kedalaman (biasanya 100-200), menyapu
koridor di sekitar jalan kapal (lebar total 150 mencakup hingga 7.5 kali
kedalaman air). Kebanyakan Multibeam Sounder menggunakan besar
lebar sudut mereka untuk merekam gambar akustik menggunakan prinsip yang sama
sebagai side scan sonar. Tetapi kinerja yang dihasilkan lebih buruk
daripada dalam sistem (towfish), karena gerakan platform dukungan dan karena
insiden sudut tidak cukup merumput. Dengan sistem tersebut, ahli geologi telah
mengintegrasi pembuangan alat-alat yang memberikan, pada saat yang sama, bathymetry
dan reflektivitas pengukuran. Pengumpulan simultan seismik dan sedimen profiler
data dapat membantu dalam menyediakan penyelidikan yang sangat lengkap dan
menyeluruh mengenai struktur sedimen.
2.3. Pengukuran
Kedalaman Laut
Dasar laut
memiliki karakteristik memantulkan dan menghamburkan kembali gelombang suara
seperti halnya permukaan perairan laut. Parameter
seperti ukuran butiran sedimen, relief dasar perairan, serta sejumlah variasi
lainnya pada dasar perairan mempengaruhi proses hamburan sinyal akustik (Jayantir, 2009).
Alat yang biasa
digunakan adalah Echosounder dimana alat ini merekam waktu bolak
balik yang ditempuh oleh pulsa suara dari permukaan hingga dasar perairan.
Dengan mengetahui cepat rambat gelombang bunyi di dalam air (V) dan waktu
tempuh untuk menangkap kembali gelombang bunyi yang dilepaskan (t), maka
diperoleh kedalaman perairan (s) (Fauzi,2009).
2.4. Pengukuran Suhu Laut
Pengukuran suhu merupakan salah satu paramter laut yang sering diukur, karena
kegunaannya dalam proses – proses fisika, kimia, dan biologi di perairan laut.
Suhu laut berubah – ubah berdasarkan ruang dan waktu. Suhu merupakan faktor
fisika yang penting dimana-mana di dunia. Kenaikan suhu mempercepat
reaksi-reaksi kimiawi menurut hukum van't Hoff kenaikan suhu 10°C melipat
duakan kecepatan reaksi, walaupun hukum ini tidak selalu berlaku (Anonim,
2001).
Suhu air laut
dapat mengidentifikasi massa air laut. Suhu air laut sangat berhubungan erat
dengan salinitas, dimana suhu dan salinitas dapat menentukan densitas air laut
disamping tekanan. Air laut ditinjau dari sifat-sifat fisis atau kimiawinya,
secara umum adalah berlapis. Distribusi sifat-sifat maupun kimiawi air laut
umumnya zonal dalam arti tidak banyak perubahan dalam sifat-sifat air. Suhu
permukaan laut berkisar antara – 2oC sampai 28oC
(Nyabbaken, 2000).
Suhu merupakan
faktor fisika yang penting dimana-mana di dunia. Kenaikan suhu mempercepat
reaksi-reaksi kimiawi; menurut hukum van't Hoff kenaikan suhu 10°C melipat
duakan kecepatan reaksi, walaupun hukum ini tidak selalu berlaku. Misalnya saja
proses metabolisme akan menaik sampai puncaknya dengan kenaikan suhu tetapi
kemudian menurun lagi. Setiap perubahan suhu cenderung untuk mempengaruhi
banyak proses kimiawi yang terjadi secara bersamaan pada jaringan tanaman dan
binatang, karenanya juga mempengaruhi biota secara keseluruhan (Foster, 2000).
![]() |
II.
METODOLOGI PRAKTEK
METODOLOGI PRAKTEK
3.1
Waktu
dan Lokasi
Peraktik
lapang ini dilaksanakan pada tanggal 1 -
4 Desember 2015 di Desa Sungai Dua Laut kecamatan Sungai Loban, Kabupaten Tanah Bumbu,
provinsi Kalimantan Selatan.

Gambar
1. Peta Lokasi Praktik Lapang Di Desa Sungai Dua Laut.
3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada
praktikum akustik kelautan mengenai GPS adalah:
a.
GPS Map Souder : untuk mengetahui hasil pengamatan
berupa koordinat lokasi, suhu, kedalaman perairan.
b.
Aki : sebagai sumber energi listrik
c.
Kabel : untuk menyalurkan energi listrik dari aki ke
peralatan
d.
Antena : untuk menerima signal satelit
e.
Transmitter : mentransmisikan atau memperkuat sinyal pulsa
f.
Transducer : memancarkan dan menerima pulsa suara dan
mengubah energi listrik menjadi suara dan sebaliknya
g.
Receiver : menguatkan sinya echo dari transducer
h.
Display : menampilkan data pengamatan
i.
Kapal : sebagai alat transporstasi dan penenpatan alat
3.3
Metode
Pengambilan Data
Metode pengambilan data, dilakukan secara insitu dan
observasi di lapangan yaitu
di perairan Desa Sungai Dua Laut, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan
Selatan.
![]() |
IVHASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.
Analisa Hasil Praktikum
Dari praktikum Aksutik Kelautan mengenai echosounder, diperoleh
data sebagai berikut:

Gambar 2. Peta sebaran kedalaman perairan Desa Sungai Dua
Laut
Dari hasil pengamatan yang dilakukan di
perairan Sungai Dua Laut didapatkan data sebagaimana ditampilkan pada gambar diatas dapat
diketahui bahwa kedalaman perairan Desa Sungai Dua Laut berkisar antara 0hingga
5 meter. Perairan pada daerah pesisir pantai mempunyai kedalaman 0 hingga 0,5
meter, sedangkan perairan pada daerah tengah laut mempunyai kedalaman mencapai 4
hingga 5 meter.
Dapat diambil
kesimpulan, bahwa jenis karakteristik kedalaman perairan di Desa Sungai Dua
Laut adalah landai, karena kedalaman perairannya tidak mencapai
200 meter, serta permukaan pesisir pantai cenderung datar. Hal ini diperkirakan
karena proses sedimentasi yang terjadi di perairan tersebut, menyebabkan
pendangkalan perairan di dekat pesisir yang merupakan dampak dari erosi di
daerah tersebut.

Gambar 3. Peta sebaran suhu perairan Sungai Dua Laut
Berdasarkan hasil
pengamatan selama 4 hari di perairan Desa Sungai Dua Laut didapatkan hasil
untuk sebaran suhu perairan seperti yang ditampilkan pada gambar di atas, dan
dapat diketahuisebaran suhu di perairan Desa Sungai Dua Laut berkisar antara
28-33,5°C. Untuk suhu permukaan air tertinggi yaitu 33,5°C berlokasi di dekat
pesisir pantaiseperti yang ditunjukkan dari gambar di atas dengan warna ungu,
sedangkan lokasi dengan suhu kisaran 28°C atau suhu terendah berlokasi di
sebelah barat daya lokasi praktek yang ditunjukan dengan warna merah.
Suhu
menurun secara teratur sesuai dengan kedalaman. Semakin dalam suhuakan semakin
rendah atau dingin. Hal ini diakibatkan karena kurangnya intensitas matahari
yang masuk kedalam perairan. Pada kedalaman melebihi 1000 meter suhu air
relatif konstan dan berkisar antara 2°C – 4°C (Hutagalung, 1988)
Suhu
mengalami perubahan secara perlahan-lahan dari daerah pantai menuju laut lepas.
Umumnya suhu di pantai lebih tinggi dari daerah laut karena daratan lebih mudah
menyerap panas matahari sedangkan laut tidak mudah mengubah suhu bila suhu
lingkungan tidak berubah. Di daerah lepas pantai suhunya rendah dan stabil.(Hutabarat,1986).
Terjadinya perbedaan
suhu seperti yang ditunjukan pada gambar diatas diperkirakan karena adanya
faktor faktor yang memengaruhi suhu permukaan laut, yaitu
intensitas cahaya matahari yang diterima, musim, cuaca, sirkulasi udara, dan
penutupan awan (Hutabarat dan Evans, 1986).
![]() |

V.PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum Akustik
Kelautan mengenai echosounder, bisa diambil kesimpulan bahwa:
1.
Akustik Kelautan merupakan ilmu yang mempelajari gelombang
suara dan perambatannya dalam medium air laut.
2.
Echosounder adalah alat yang bekerja dengan prinsip akustik yang
memancarkan gelombang vertikal ke dalam air.Pada dasarnya echosounder berfungsi
sebagai pemancar getaran suara dalam air untuk mengukur jarak ke dasar samuder
dengan akurat, namun pada perkembangannya, pemanfaatan echosounder mencakup
semua bidang.
3.
Berdasarkan data lapang yang didapat, diketahui bahwa kedalaman perairan
Sungai Dua Lautyaitu antara 1 – 5 meter, dan dapat
diambil kesimpulan bahwa jenis karakteristik perairannya adalah landai.
4.
Berdasarkan data lapang yang didapat,telah diketahui bahwa sebaran suhu perairan
di Sungai Dua Laut yaitu antara 28 – 33,5oC
5.2. Saran
Dalam praktikum Akustik Kelautan, laporan ini masih jauh dari kesempurnaan,
maka dari itu dibutuhkan kritik dan saran sebagai masukan untuk penulis guna
memperbaiki segala kekurangan yang ada pada penulisan ini.Dalam
praktek berikutnya agar lebih terlaksana
dengan baik sehingga data yang diperoleh lebih baik pula. Sehingga diperlukan
kerjasama dalam menganalisis data dan kejelasan pembagian tugas antar
praktikan.
DAFTAR PUSTAKA
Arnaya,
I.N. 1991. Dasar-dasar Akustik. Diktat Kuliah Program Studi Ilmu
danTeknologi Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Ben-Yami, M.1985.Community Fishery
Centries: Guide lines for Establishment andoperation.FAO.Fishery Industries
Division
Burczynski,
JJ.1982.Introduction to the Use of Sonar
System for estimating Fish Biomass.
FAO. Fisheries Technical Paper No.191 Revision 1
FAO.Fisheries
Technical Paper. Roma.Kloser, R. J., Bax, N. J., Ryan, T., Williams, A. dan
Baker, B. A.(2001). Remote sensing of
seabed types in the AustralianSouth East Fishery – Development
and Application
of Normalincident
Acoustic Techniques
and Associated Ground Truthing.
Fauzi,Nurul Ihsan. 2009. Pemetaan Batimetri. Jurnal Kelautan. Bandung
Foster,Bob.2000.Fisika Dasar.
Erlangga, Jakarta.
Jayantir,
R. W. N. 2009. Pengukuran Acoustic Backscattering Strength Dasar
Perairan Selat Gaspar Dan Sekitarnya Menggunakan Instrumen Simrad Ek60.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Kinsler, Lawrence E., et al., 1982, Fundamentals
of Acoustics, third ed, John Wiley & Sons. New York.
Lurton, X. 2002. An
Introduction to Underwater Acoustic. Principles and Applications. Praxis
Publishing Ltd. Chincester. UK
Manik,
HM.2009.Quantying of Tuna Target Strenght
Using Quantitative Echosounder. E-Journal.Departement
of Marine Science and Technology.Institut Pertanian Bogor.Bogor.
Nybakken, J. W.. 2000. Biologi Laut Suatu Pendekatan
Ekologi. PT. Gramedia. Jakarta.
Parkinson, B.W. (1996), Echosounder :
Theory and Applications, chap. 1:Introduction and Heritage of NAVSTAR, the
Global Positioning System.pp. 3-28, American Institute of Aeronautics and
Astronautics, Washington,D.C
![]() |
PROFIL KEDALAMAN DAN SEBARAN SUHU
DI PERAIRAN DESA SUNGAI DUA LAUT KABUPATEN TANAH BUMBU
LAPORAN AKUSTIK KELAUTAN
![]() |
Oleh :
M MAHBUB NORKHALIS Z
G1F113002
KEMENTERIANRISET DAN
TEKNOLOGI PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS PERIKANAN
DAN KELAUTAN
BANJARBARU
2015


